oleh

Naif! Baru di Daerah Ini, Ada Predikat ASN Pengkhianat

RUMOR predikat loyalis dan pengkhianat di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bengkulu Selatan, lambat laun menjadi mesin pembunuh petahana.

Sebagai “kuli” negara, sudah semestinya ASN bersikap netral, menjaga wibawa dengan tidak tunduk —apalagi menjadi motor— kepentingan salah satu kontestan politik praktis, sekalipun kubu petahana. Toh, partisipasi politik masih bisa dilakukan dengan kapasitas pribadi, di luar waktu dan fasilitas dinas.

top

Namun, entah dari mana asalnya, sejak setahun terakhir muncul sebutan pengkhianat bagi ASN yang dinilai kurang pandai memamerkan kedekatan diri dengan kepala daerah.

Sindrom ASN pengkhianat ini terus mewabah hingga ke level staf paling bawah, kemudian meledak ke permukaan menjelang kebijakan mutasi, rotasi dan promosi jabatan ditetaapkan.

Sementara, klaim sebagai loyalis sebenarnya juga tidak banyak membantu, walau telah jungkir-balik membuktikan pengabdian terbaik di jabatan masing-masing. Pada gilirannya, mereka juga bakal dianggap “siput muji buntut” yang patut dapat stempel pengkhianat.

Dampaknya, wibawa pemerintahan pun tercoreng. Publik menilai seorang bupati tidak lebih dari seorang pemimpin gangster yang main sikut sesuka hati demi mempertahankan superioritas.

Padahal, dalam tatakelola pemerintahan, seorang Gusnan Mulyadi dijamin takkan sanggup menggunakan ego jabatan —keputusan normatif— sebagai bupati semata. Ada sistem berlapis bekerja di bawah regulasi ciptaan pemerintah pusat yang wajib dipatuhinya, sebelum para pejabat ASN mengalamai mutasi, rotasi atau promosi.

Lantas, apa sebab rumor predikat pengkhianat begitu populer di kalangan terpelajar —sekelas ASN— daerah ini hingga seorang bupati pun terkesan turut terbuai oleh intrik perpecahan ini? Jawabannya terletak pada ASN itu sendiri, sebab kecil kemungkinan “bom bunuh diri” ini ciptaan petahana.

Media ini pernah mengerahkan hampir separuh sumber daya melacak asal-muasal penyakit laten loyalis dan pengkhianat ini. Diduga kuat, ada tangan lain —memperalat para pemabuk jabatan— di sekitar Gedung Putih, sebutan Kantor Bupati Bengkulu Selatan,  yang begitu yakin terkotak-kotaknya ASN bisa berimplikasi kemenangan politik praktis.

Sedangkan Gundul sendiri, sapaan akrab Gusnan Mulyadi, sejak baru menjabat wakil bupati memang terkenal berani melakukan “top tree flight” dengan membuka sedikitnya dua sambungan telepon pribadi untuk pengaduan publik, serta sesekali merespon pengaduan itu secara langsung. Bisa saja, di antara ribuan pengaduan ini terselip “malware” pengadu-domba.

Apalagi, eksistensinya di linimassa facebook bagi banyak kalangan berpengaruh buruk. “Di situ, bisa saja Gundul beranggapan seseorang rajin membagikan link berita tentang dirinya sebagai implementasi niat baik, padahal belum tentu begitu,” ungkap salah satu politisi senior kepada Serunting.com, pekan lalu.

Bisikan orang-orang dekat berperan cukup dominan memfilter masukan-masukan bermuatan toksin. Begitu pun orang dekat bertendensius tinggi dan berpotensi mengkotak-kotakkan ASN, sebaiknya diparkir dulu.

Sejatinya, seorang ASN mengabdi di bawah sumpah jabatan, sehingga baru layak divonis pengkhianat kalau melanggar sumpah tersebut. Terlalu dini melekatkan predikat negatif kalau baru sebatas ASN terkait kelihatan tidak familiar dengan bupati.

Sudah saatnya Gundul fokus menyukseskan target utama, yakni melanjutkan sisa masa pemerintahan sebaik-baiknya tanpa jargon berlebihan. Agar ringan merangkak ke target kedua, menciptakan sejarah baru di Bumi Sekundang Setungguan, yakni petahana pertama yang mampu memenangkan Pilkada.

Atau minimal, di masa mendatang Gundul tidak dikenang sebagai mantan kepala daerah yang pernah membiarkan perpecahan ASN.[/**]

top

Terbaru