Kebohongan (MA) Terungkap Saat Mediasi di SMAN 02 Bengkulu Utara

SERUNTING.COM :Bengkulu Utara (04/05/26) – Kebohongan (MA) yang mengaku-ngaku sebagai korban insiden perkelahian antar siswa di SMAN 02 Bengkulu Utara yang menyatakan bahwa pihak keluarga murid laki-laki tidak ada itikad baik terungkapkan saat mediasi yang kesekian kalinya di gelar oleh pihak sekolah pada Senin, 04 Mei 2026.

Pihak Sekolah kembali berupaya memfasilitasi dan memediasi antara kelompok siswa/i yang terlibat perkelahian siswa dalam perkelahian tersebut ada siswi yg terjatuh sendiri lantaran pingsan berinisial MA yang mengaku-ngaku menjadi korban dalam insiden perkelahian tersebut.

Pihak Sekolah berharap persoalan yang terjadi ada titik temu jalan keluar nya agar tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan secara damai secara kekeluargaan untuk kebaikan bersama.

Salah satu wali murid dari pihak siswa yang terlibat pertikaian menyatakan kesediaannya untuk menempuh jalur damai. Namun, namun hal berbeda disampaikan oleh pihak MA dan keluarganya yang tetap bersikukuh melanjutkan kasus ini ke ranah hukum, mengingat laporan resmi telah dilayangkan ke Polres Bengkulu Utara beberapa waktu lalu.

Dalam proses mediasi tersebut pihak keluarga (MA) sempat menyatakan bahwa pihak orang tua dari murid yang berkelahi tidak memiliki itikad baik untuk datang meminta maaf kerumah kediaman mereka.

Namun hal itu langsung dibantah oleh Edi Supardi yang merupakan Kepala Desa tempat dimana Keluarga (MA) tinggal, Edi mengatakan, “kalau anda mengatakan tidak ada itikad baik itu justru salah besar, Saya sudah 2 kali mendatangi rumah kamu untuk mengantarkan para wali murid untuk meminta maaf dan berharap ada jalan damai, akan tetapi kamu minta 30 juta kalau mau damai, ya itu yang gak ada itikad baik itu siapa.”

“Selain itu Saya juga ada mendampingi salah satu orang tua wali saat menjenguk ke rumah sakit, disitu juga kami melihat kalau anak anda (MA) gak ada luka memar ataupun benjol seperti yang kalian umbar di media,” tegas Edi Supardi.

Akan tetapi, dalam proses mediasi tersebut pihak keluarga (MA) tetap bersikukuh tidak mau damai dan tetap menyerahkan persoalan ini ke pihak polres.

Setelah selesainya proses mediasi untuk yang kesekian kalinya di sekolah, salah seorang wali murid yang jadi terlapor kepada media ini mengatakan, “kalau mereka gak mau damai, ya sudah, masa kita harus mengemis untuk meminta maaf.”

“Saya sudah menanyakan berulang kali kepada anak saya, dan anak saya mengatakan tidak ada seorangpun yang menyenggol ataupun menyentuh (MA) saat perkelahian itu,” ungkapnya.

“Anak saya berkata, tiba-tiba saja dia (MA) jatuh pingsan di tengah kerumunan,” ucapnya.

“Kalau semisal (MA) gak mau damai dan tetap menuduh anak-anak kami sebagai pelaku pemukulan, ya tinggal dia buktikan sendiri saja nanti dalam proses peradilan,” katanya.

“Semoga nantinya pihak penegak hukum dapat mengungkap kebenaran yang sebenarnya terjadi dan menyatakan bahwa anak-anak kami tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan (MA), sehingga nantinya kami juga bisa melaporkan balik dengan dugaan laporan palsu,” tegasnya.

Orang tua wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, “Saya heran dengan (MA) dan keluarganya, kenapa ada 2 orang murid tidak ikut dilaporkan, kenapa hanya anak-anak kami saja.”

“Padahal secara jelas dalam surat damai yang ditandatangani di sekolah, kedua anak itu ikut juga berkelahi,” lanjutnya.

“Apakah karena salah satunya masih sanak (MA) dan seorang lagi anak dari Perwira Polisi,” sebuah pertanyaan muncul dari wali murid.

“Kalau mau lapor, jangan dipilih-pilih lah, mentang-mentang kami bukan perwira, jadi anak kami dituduhkan macam-macam,” kesalnya.

sementara wali dari kedua oi murid yang dimaksud belum dapat dihubungi untuk memastikan kebenaran dari ungkapan ini.

Sampai berita ini ditayangkan, Perwira Polisi yang dimaksud dan Sanak dari (MA) belum dapat dikonfirmasi…..

Pewarta :Ira

 

Exit mobile version